JAYAPURA| TIMURVIEWS.COM — Puluhan mahasiswa asal Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, yang menempuh pendidikan di Kota Jayapura mendesak Pemerintah Kabupaten Tolikara segera merealisasikan bantuan studi dan dana pemondokan asrama.
Desakan tersebut disampaikan Himpunan Mahasiswa Pelajar Tolikara (HMPT) Kota Studi Jayapura bersama Forum Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara se-Indonesia dalam konferensi pers di Asrama Tolikara, Yoka Expo, Waena, Kota Jayapura, Selasa (8/9/2026).
Ketua HMPT Kota Studi Jayapura, Rion E. Wonda, mengatakan keterlambatan bantuan studi telah berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa Tolikara.
Menurutnya, sekitar 70 mahasiswa terpaksa mengambil cuti dan berhenti sementara dari perkuliahan karena terkendala biaya. Sementara sekitar 40 mahasiswa lainnya harus meminjam uang untuk tetap melanjutkan pendidikan.
“Di Jayapura sekitar 70-an mahasiswa sudah cuti dan tidak melanjutkan kuliah karena persoalan biaya. Sementara sekitar 40-an mahasiswa lainnya terpaksa meminjam uang untuk bisa melanjutkan pendidikan,” kata Wonda.
Ia menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan mengingat Jayapura merupakan salah satu kota studi dengan jumlah mahasiswa asal Tolikara yang cukup besar.
Selain bantuan studi, mahasiswa juga menyoroti kondisi sejumlah asrama Tolikara yang dinilai membutuhkan perhatian dan perbaikan.
“Banyak mahasiswa yang tinggal di asrama, tetapi fasilitasnya banyak yang rusak. Pemerintah jangan tinggal diam. Harus ada kontrol dan pengawasan,” tegasnya.
Wonda meminta Pemkab Tolikara tidak membiarkan mahasiswa menjadi korban akibat persoalan administrasi maupun pengelolaan anggaran.
“Jangan korbankan kami, jangan korbankan generasi Tolikara. Jangan matikan kami. Kami adalah aset daerah,” ujarnya.
Dalam konferensi pers tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya meminta Pemkab Tolikara segera merealisasikan dana bantuan studi dan pemondokan, membuka transparansi pengelolaan anggaran mahasiswa, serta memberikan hak yang sama kepada mahasiswa Tolikara yang berdomisili di luar daerah.
Mahasiswa juga meminta pemerintah segera mengecek dan memperbaiki fasilitas asrama Tolikara di berbagai kota studi.
Selain itu, mereka meminta Kementerian Dalam Negeri mengambil langkah sesuai kewenangannya untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan bantuan studi mahasiswa Tolikara.
Mahasiswa menegaskan apabila tuntutan tersebut tidak segera ditindaklanjuti, mereka siap menggelar aksi massa yang lebih besar atau Aksi Jilid II.
“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Jangan sampai persoalan ini mengorbankan pendidikan generasi muda Tolikara,” tegas Wonda. (**)
