PENTINGNYA MENGETAHUI CERITA PERJALANAN PERUBAHAN NAMA IRIAN JAYA MENJADI PAPUA-ELPAS.

Sumber Data Gambar : Google

 TU||Elpas-Realita menunjukkan bahwa seringkali orang asli Papua kurang mempunyai rasa memiliki bersama atas bangsa ini karena Papua bila dilihat secara historis, diberi nama Ilhas dos Papuas oleh: Jorge dr Menezes, seorang Portugis pada tahun 1526, kemudian pada tahun 1545 seorang pelaut Spanyol Ynigo Ortis de Retes menyebutnya Nueva Guinea, karena daerah ini mengingatkannya pada Guinea di benua Afrika, sebab masyarakat yang ditemuinya memiliki ciri-ciri fisik yang sama, yaitu berambut keriting dan berkulit hitam. Tahun 1828 Nueva Guinea dikuasai oleh Belanda dengan wilayah administrasi nya yang di namakan Residentie Niew Guinea (RNG).

Pada 1 Mei 1963, New Guinea secara de facto telah kembali ke pangkuan Republik Indonesia (RI) dan namanya diubah menjadi Irian Barat, tetapi secara de jure belum masuk kedalam wilayah Republik Indonesia (RI) karena sesuai dengan " New York Agreement" (15 Agustus 1963) masih dibutuhkan satu tahapan lagi yang harusnya di lalui yaitu Penentuan Pendapat Pakyat (PEPERA) yang dilaksanakan pada tahun 1969. Pepera dengan sejumlah kontroversinya berhasil dilaksanakan dan rakyat Irian Barat  tetap menghendaki ikut Indonesia. Sejak saat itu, Irian Barat secara de facto dan de jure telah kembali kepangkuan bumi Pertiwi, Indonesia secara paksa tanpa mengikuti proses Pepera 1969.

Melalui Undang-undang Nomor 12 tahun 1969, sejak tanggal 10 September 1969 nama Irian Barat menjadi Provinsi Irian Jaya dengan ibu kota di Jayapura yang dulunya bernama Holandia, Kotabaru dan Sukarnapura.

Baca Juga : Jabatan dalam Jerat anda Oleh Elpas

Dalam perjalanan sejarah nya, nama Irian selalu menimbulkan kontroversi dan sering dipelesetkan menjadi Ikut Republik Indonesia Anti Nederland (IRIAN). Padahal nama Iryan, yang berasal dari bahasa Biak, nama tersebut diusulkan oleh seorang pejuang Irian barat bernama Frans Kaisiepo, karena nama tersebut mengandung arti/makna: "Negeri yang panas hawanya". Alasan Frans Kaisiepo mengusulkan nama tersebut adalah karena dia tidak mau disebut Papua, sebab nama papua identik dengan bodoh, malas dan kotor.

Namun dalam perkembangan situasi dan kondisi Irian Jaya dimana aspirasi masyarakat menghendaki pengembalian nama  Irian Jaya menjadi Papua  maka melalui keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Irian Jaya Nomor: 7/DPRD/2000 tanggal 16 Agustus 2000, nama Irian Jaya telah berubah menjadi Papua. Namun baru pada tanggal 1 Januari 2002, ketika undang-undang otonomi khusus diberlakukan, sehingga nama papua resmi digunakan sampai sekarang. Peresmian nama tersebut terjadi ketika Gus Dur (Presiden RI pada saat itu) ia hadir di Jayapura pada tanggal tersebut.

Legalnya nama Irian  pada era Frans Kaisiepo, dan nama papua pada saat ini, adalah karena komitmen dan kehendaknya masyarakat papua merupakan  refleksi dari sebuah perubahan yang bersifat normatif dan alamiah.

Oleh: Elius Pase